Letak dan Luas Wilayah

Desa Akelamo secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat Terletak di arah Barat Kabupaten Halmahera Barat, dengan jarak 750 m dari Kantor Kecamatan. Jarak Desa Akelamo dari kantor Bupati Kabupaten Halmahera Barat sekitar 7 Km. Waktu tempuh menuju pusat kota Kecamatan sekitar 15 menit, sedangkan waktu tempuh menuju Ibukota Kabupaten kira-kira 30 menit.

Desa Akelamo terdiri dari 5 Rt  atau dusun, dusun tersebut antara lain Rt 01 – 05. Luas Wilayah Desa  Akelamo adalah 254 Ha dengan batas-batas desa sebagai berikut:

– Sebelah Utara                                         : Desa Taraudu kusu

– Sebelah Selatan                                      : Sungai Akelamo

– Sebelah Barat                                         : Desa Gamomeng

– Sebelah Timur                                        : Sungai Akelamo

Topografi dan Jenis Tanah

Desa Akelamo secara topografi berupa tanah datar dengan ketinggian antara 0 sd 535 m di atas permukaan laut (dpl), sehingga tergolong dataran rendah. Suhu di daerah ini cukup bervariasi antara 24 derajat saat paling dingin dan 35 derajat saat paling panas. Jenis tanah yang ada di wilayah sebagian besar adalah tanah andisol. Sifat tanah andisol adalah bersolum tebal/dalam dan berwarna kuning terang, makin dalam makin terang. Tekstur liatnya silty loam dengan kadar liat kurang dari 30%. Kepekaan tanah andisol terhadap erosi cukup tinggi, keasamannya bermacam-macam, dan bahan organiknya rendah.

Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Iklim desa Akelamo termasuk dalam daerah dengan tipe iklim D, dengan nilai Q antara 60% – 100%. Nilai Q adalah perbandingan antara banyaknya bulan basah dibagi dengan bulan kering kali 100%.

Sarana dan Prasarana

Sarana perhubungan dengan Akelamo sebagai Ibukota Kecamatan dan Jailolo sebagai Ibukota Kabupaten dihubungkan dengan jalan darat dengan konstruksi jalan beraspal. Sedangkan dari pusat desa menuju ke seluruh dusun dihubungkan oleh jalan yang diperkeras dengan batu atau makadam, jalan makadam ini cukup bagus karena ditata sedemikian rupa sehingga jalan terasa halus.

Keadaan jalan yang sudah beraspal dan adanya mobil angkutan yang masuk mengakibatkan mobilitas dalam kegiatan sehari-hari masyarakat menjadi tinggi, sehingga banyak masyarakat Desa banyak yang melakukan urbanisasi terutama kaum muda. Sebagian besar dari kaum bekerja keluar desa menuju berbagai kota untuk beberapa tahun, setelah itu mereka akan kembali lagi ke desa untuk tinggal menetap. Bagi masyarakat yang bekerja sebagai pedagang, atau mau bekerja keluar kota merasa sangat terbantu dengan adanya prasarana jalan angkut ini.

Sistem Usaha Tani

Ditinjau dari jenis komoditas yang diusahakan, sistem usaha tani yang ada di Akelamo dibedakan menjadi empat, yaitu komoditas pertanian seperti jagung dan ketela, komoditas kedua adalah kehutanan seperti pala, sagu, kakao dan kelompok ketiga adalah komoditas perkebunan seperti kelapa, kopi, durian, rambutan, dan cengkeh, dan kelompok keempat adalah komoditas hijauan makanan ternak seperti kaliandra, ketela tahun dan rumput gajah. Sedangkan ditinjau dari rotasinya dapat dibedakan menjadi dua yaitu komoditas yang mempunyai rotasi lebih dari satu tahun dan komoditas yang kurang dari satu tahun. Yang dimaksud rotasi disini adalah jangka waktu tanaman tersebut ditanam sampai dengan tanaman tersebut tidak ekonomis lagi diproduksi.

Jenis komoditas kehutanan yang paling banyak ditanam adalah  tanaman binuang dan jati. Sedangkan komoditas perkebunan yang paling banyak ditanam adalah kelapa (Cocos nucifera), kopi, cengkeh, rambutan, kakao dan durian. Pohon kelapa ditanam oleh petani, sebagian diambil buahnya untuk dibuat kopra namun sebagian besar lagi disadap niranya untuk dibuat menjadi gula kelapa. Jenis komoditas kehutanan dan perkebunan ini mempunyai rotasi lebih dari satu tahun.

Jenis komoditas pertanian yang ada di desa terdiri dari Jagung (Zeimays indurate), Lombok, ubi rambat, ubi kayu (manihot utilissima), dan sebagian besar adalah tanaman jagung dan ketela pohon. Keempat komoditas pertanian tersebut ditanam pada lahan yang sama secara bergiliran sesuai dengan musimnya. Pola pergiliran tanaman ini berlangsung dalam jangka waktu satu tahun. Pada umumnya jagung dan cabai dan ubi kayu ditanam pada awal musim penghujan (Oktober-November).Namun hal ini berlaku jika lahan yang ada kekurangan air. Untuk lahan mudah dalam mendapatkan air tidak menggunakan pola pergiliran karena setiap tahunnya hanya ditanami dengan jagung saja.

Jumlah lahan yang kekurangan air atau biasa disebut tanah kering luasannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena tekanan jumlah penduduk, Hal ini sudah dirasakan oleh penduduk. Dari kondisi seperti inilah sebenarnya keberadaan hutan rakyat mulai berkembang.